Translate

Senin, 16 November 2015

Unforgetable Memories at Mt.Papandayan

Hiking adalah Bahaya, Kecantikan dan Kepuasan Batin yang banyak di cari manusia –Unknown-



Cerita bermula dari kumpulan Purna OSIS SMKN 1 Wanareja Masa Bhakti 2014/2015, kami berjumlah 14 Orang dengan 6 Laki-laki dan 8 Perempuan tangguh.

Cuaca belakangan ini ngga mendukung buat aktifitas outdoor. Hujan yang ngga bisa di prediksi membuat kami kelabakan ngatur waktu buat berangkat.

Akhirnya setelah briefing lama, kami memutuskan berangkat ba’da Isya dari Cilacap menuju Garut, Jawa Barat.

Perjalanan malam mulanya terasa oke-oke aja, kita semua fit. Semua cewek bawa carrier dan daypack wajib di taruh di depan motor. Ngga wajib sih, Cuma biar gampang aja

Di Tasikmalaya kami break buat melengkapi logistik dan istirahat seperlunya, leader tim kami memprediksi kami bakal sampai Garut kisaran jam 1-2 dinihari. Kami jabanin demi puncak Papandayan.

Perjalanan berlanjut, kami mulai masuk wilayah Garut. Jalanan mulai berkelok dan ngantuk sebisa mungkin kami tahan. Gue sendiri memutuskan nyanyi keras-keras biar ngga ngantuk. Sampai di gerbang masuk pertama cuaca dingin menyerbu. Ah! Di gunung biasa dingin nya..

Dari gerbang masuk pertama sekitar 8-10 km menuju gerbang registrasi. Jalanan menanjak dan dingin nya udah mulai ampun-ampunan. Di depan pintu registrasi, kami disambut akang-akang Papandayan yang lagi duduk dekat api. Kami berenti dan ikut menghangatkan diri, ditambah ada dua anggota tim yang ketinggalan. Akhirnya kami fix berhenti.

Tiga puluh menit kemudian tim lengkap, kita lanjut ke Pos  Camp David. Begitu sampai disana. oh! Suck! Kita lupa ngga bawa dome!!

Leader kita tenang, dia bilang bisa tidur di emperan. Oke, kita tidur di emperan saung. Selanjutnya leader kita nanya alat masak. Dan. For God’s Sake!! Carrier yang berisi kompor dan alat masak lainnya juga ketinggalan.

Temen Gue bilang “Mau ngapain kita kesini? Mau mati, hah?!”
Gue bingung, temen cewek gue bilang. “Tenang mba, positif thinking aja. Kita survive disini..” dia nenangin gue yang nyaris nangis. Love you so much mba Puji!

Di tengah bingung, kita memutuskan buat nyewa peralatan masak ke pos registrasi. Dan malam itu akhirnya kami bisa makan. Selanjutnya tidur, rasanya kaya Cuma ngedip! Jam setengah empat pagi kami bangun, dan leader kami minta buat jalan demi ngejar sunrise yang bahkan ngga kekejar. Kita mikirnya optimis aja sampe puncak. Udah. Itu aja.

Perjalanan pertama dimulai dari kawah yang bau belerangnya ngga nahan, kita cengap-cengep buat ngelewatin itu. Selanjutnya pemandangan hijau menyegarkan mata yang menyambut kami di perjalanan.

Setengah perjalanan, kita break di tebing dan masak. Leader kami bilang bentar lagi sampai ke Pos Pondok Saladah, tapi kami butuh makan. Dan break disitu.

Usai makan, kita lanjut jalan lagi. Ngga kerasa deh jalannya. Soalnya adem-adem gimana gitu elu kan bawa daypack. Jelas lah adem. Yang bawa carrier mah kepanasaaannn!

Sampai di pos Pondok Saladah, kami antri ke toilet. Disitu gue ngga sengaja nanya ke temen cewek gue, dia bilang dia lagi ‘berhalangan’ alias dapet ‘tamu’, kesel lah gue. Gue bilang “Kamu nantang banget naik!”dia pasrah dan bilang “Mau gimana lagi”

Okelah, gue maklumi. Selepas itu kami istirahat lagi sambil beli dan makan bakso ikan legenda di Pondok Saladah. Ah~ bakal kangen banget sama Papandayan! Apalagi bakso ikannyaa~!! XD



Dari pos kita lanjut jalan ke tempat camp. Bingung kan, orang ngga bawa dome ke tempat camp. Ya, disitu kita cuma leyeh-leyeh dan tiduran diatas hamparan bunga Edelweis.. Like a Dreamland..


Karena bingung mau gimana, akhirnya mba Puji nyamperin pendaki lain dan nitip tas di situ. Kami lanjut jalan ke Hutan Mati dan Tegal Alun.



Sesampainya di Hutan Mati kita ketemu pendaki lain dan foto bareng, perjalanan yang tadinya mau lanjut ke Tegal Alun mesti kami tunda karena temen gue yang sebelumnya lagi ‘dapet’ mendadak nangis dan kena hipotermia. Kami peluk dia, dan kabut menggulung seketika. Buru-buru kita turun lagi ke tempat camp, disana kami di tolong sama pendaki yang kami titipin tas. Mereka dari Bekasi, dan you know, temen gue yang tadinya gue kira hipotermia itu ternyata kesurupan! Ya!

Cerita sebenarnya gue mulai, terserah mau percaya apa nggak. Yang jelas ini gue alamin di depan mata kepala gue sendiri. Dia nangis dan teriak keras banget ketika kami baca ayat kursi keras-keras. Gue kewalahan karena ternyata dari banyak orang cuma gue yang hafal ayat kursi. Entahlah, boleh bangga atau ngga sama prestasi itu. Gue panik, bingung, shock. Dan.. banyak hal yang ngga bisa gue ungkapin. Badai menggulung kami semua, like a drama but its REALITY!

Berjam-jam, akhirnya temen kami bisa diatasi. Ngga lama setelah itu adzan dzuhur berkumandang. Kalo gue itung tiga jam lah itu temen gue kerasukan.

Pendaki yang nolongin kami bilang ‘Penunggu Hutan Mati’ itu suka sama leader kami. Ya Allah.. dan orang asli Papandayan mengamini hal itu. Akhirnya tim cewek dan cowok di pisah. Udah. Kita jalan sendiri-sendiri.

Gue ngampu tim cewek, what a unforgetable experience.. gue jadi leader, karena biasanya cuma jadi anggota. Sepanjang jalan kabut masih ngikutin kami dan temen gue yang kerasukan ngga bisa ngucap kalimat istighfar sama sekali. Gue tuntun pelan-pelan ngga mempan, akhirnya gue bentak dan pukul dia. Dia malah nangis bilang “Aku ngga bisa.. aku ngga bisa istighfar..”

Gregetan sumpah!

Saat tim cuma ada tim gue doang, kabutnya ngegulung parah. Ngga lama kemudian hujan. Buru-buru gue selamatin temen gue yang kerasukan. Kami akhirnya selamat sampai kawah.

Ya, baru sampe kawah. Di kawah ada trouble lagi dimana anggota gue sesak nafas dan ngga tahan belerang. Gue lepasin dia ke anggota lain. Prioritas gue cuma sama yang kerasukan. Dia harus cepet-cepet turun sebelum badai makin parah. Separuh perjalanan kawah, satu temen cowok gue nyusul dan dia bilang temen gue yg sesak nafas karena belerang itu kondisinya parah. Akhirnya kita buru-buru turun dan nyari tim sar.

Sampe di pos registrasi kita buru-buru lapor, tapi very-slow-respond. Ternyata temen gue udh sampe bawah di gendong anggota tim lainnya. sampe di pos, buru-buru kita lapor dan keluar.
10 menit kemudian, badai yang tadinya menggulung-gulung itu hilang.. cuaca langsung terang benderang..

Maha Suci Allah dengan segala kekuasaan-Nya..

Satu pesan gue melalui tulisan ini adalah, sejatinya dinding pembatas antara dunia kita dan dunia luar hanya setipis selembar kertas. Hanya bagaimana kita membentengi diri kita masing-masing..

Darisitu gue ngga berhenti mengucap syukur, tasbih, tahlih, tahmid, dan istighfar..

Allah.. Allah.. Allah.. Cuma itu yang ada dalam pikiran gue.

Terimakasih untuk semuanya, Syukron Jazila.. Barakallah..


Lain kesempatan, mari kita taklukan jajaran puncak lainnya! J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar